Artikel terbaru Dapatkan pesan terbaru kami dengan berlangganan situs ini

Kisah: Shalatlah Yang Telah Menyatukan Kita

Opoae ~  Masih samar-samar ku dengar kamu mmenyatakan cinta dengan serius karena setelah perkenalan itu kamu kembali untuk menanyakan imailku dan menyaksikan aku lagi shalat. perkenalan itu idea temanku yang dulu suaminya sama-sam kuliah di Ersamus universiti, istri temanku menelepon berkali-kali kalau dia berniat mengenalkan teman suaminya yang lagi liburan di Indonesia. akupun menyikapinya biasa-biasa saja karena aku lagi bekerja dan telepon terus berdering, akhirnya ku katakan sini saja kalau mau kenalan aku lagi kerja nih. akhirnya kamu datang di antar suami temanku dan ngobrol-ngobrol sebentar dan kamupun pamit karena mau liburan keliling Asia katamu dan sekarang harus bergegas ke Bali berhubungng tiket sudah di beli dan jadwal liburan sudah di program dan kamupun pergi.
Kebetulan di tempat kerja lagi sepi setelah kepergianmu berniat mau sholat saja tapi ketika aku sudah mengenakan mukena kamupun kembali untk menayakn imailku dan dari situlah mulanya kamu benar-benar merasa yakin kalau akulah oarang yang selam ini kamu cari dan kesimpulan itu kami sampaikan kepada temanmu yang mengantarkanmu untuk berkenalan denganku tapi apa kata temanmu, kamu gila baru ketemu smenit sudah langsung jatuh cinta, katamu lagi aku yakin karena selama aku travel keliling kamu hanya menemui wanita-wanita gateul yang aneh dan cenderung tak pinya iman, kamu punya keyakinan kalau aku bisa berbuat nakal karena kesempatan yang besar untuk ke arah sana di mana kamu bekerja di tempat yang bergelimang kemewahan dan banyak sekali godaan dari para pelancong juga kebebasan yang kamu miliki karena kamu di tempat yang jauh dari pentauwan orang tua. juga kamu tidak jelek untuk bisa menjerat para pria iseng tapi itu tak ku temukan di kamu yang ku temukan kamu lagi mau sholat di usia seperti kamu kamu bisa menjadi liar dan merengut segala kebebasan hidup kerana itu   masa milikmu di mana segala pesta ria itu bisa jadi milikmu tapi itu tak ku lakukan.
Aku memang tak melakukan karena aku terlalu pengecut dengan apa yang ku takutkan yang katanya kalau minum alkohol haram dan kalau berbuat sex bebas juga haram dan kalau bla..bla…dah pusing aku dengan segala peraturan itu, akupun mau sperti orang-orang yang bebas melanggang tanpa dosa ketemu cowok sekali klik langsung ngamar dan tak jarang mereka sukses melenggang ke pernikahan dan mempunyai keluarga yang bahagia dan mungkin juga berakhir dengan kematian yang sholehah. tapi itu tak ku ungkapkan biarlah hanya menjadi omelanku di waktu luang,aku hanya manggut-maggut saja mengamini apa yang kamu katakan karena kamu sedang berusah manyanjungku sampe aku seperti terbang tak bersayap karena sanjunganmu.
Masih sangat jelas ketika kita makan siang dis sebuah kafe teaptnya di bunderan jalan sduirman kamu mengungkapkan semuanya setelah kamu kembali dengan cepat dari bali karena di bali kamu terus memikirkanku katamu.
tak menyia-nyiakan waktu karena aku kejar tayang denga usiaku dan berbagai hal yang ku alami maka akupun memutuskan menantangmu untuk menikah besok dengan berbekal nekad dan jaminan kalau kami laki-laki baik dari temanku yang mengenalkanku.
Aku yang sudah hampir muntah dengan  mendapatkan banyak rayuan dan gombal yang ujung-ujungnya meminta ngamar itu tak mau lagi buang waktu tak berguna  mendengarkan ocehan dari para pria yang merayuku.
Jawaban pertama dari kamu adalah saya akan menyiapkan segala sesuatunya dan di bulan desember kamu bisa berkunjung ke negara tempat saya bekerja itu katamu, dalam hati busyet nih orang mana bisa aku berkunjung ke negara tempatmu bekerja kalau tanpa ikatan yang jelas (pernikahan ) itu bukan karena orang tuaku akan tidak setuju karena bisa saja aku membohonginya tapi karena kau tak mau seperti itu sebab sudah bisa di bayangkan endingnya seperti apa kalau aku bisa berkunjung dan tinggal dalam satu rumah bersam-sama.
aku katakan lagi kalau aku harus menunggu tak bisa janji kalau desmber aku belum menikah karean aku tak mau membuang waktuku yag sudah mepet karena usiaku hampir bukan belia lagi dan aku akan menikah dengan siapa saja yang tidak menghalalkan gaya hidup bebas dan menghargai pernikahan itu kataku.
Mendapat jawaban begitu kamupun ketakutan dan dengan segera mengiyakan akan menikah besok bagaimanapun sulitnya proses yang harus di lalui. akupun mengabarkan kabar tersebut kepada ibuku yang tentu saja sangat senag dengan kabar tesebut, dalam hati kapan lagi membuat ibuku bahagia mumpung ada orang yang sama-sam linglung seperti diriku dan s
iap menikah setelah melihatku sholat. hanya karena berbekal penglihatan sholat tersebut kamipun yakin dan berbaik sangka kalau inilah jalan kami dan jodoh kami yang selama ini kami cari dan walau agak terlambat yang penting berkah di pertemukan oleh yang maha kuasa karena doa=doa kami dan orang tua kami  pikirku dan dia.
Tekad bulat kalau akan menikah dengan laki-laki yang tidak megutamakan nafsu walau ujung-ujungnya ke sana juga tapi minimalnya bisa menghargai wanita bukan barang percobaan sex semata dan di akhiri dengan komitment dan tanggung jawab maka Insya Alloh dengan ridhomu pernikahan sakinah mawada warohmah ada pada kita amin.


Baca Juga:  

Sumber : http://fadli-ahmad.blogspot.com/2013/04/sholat-itu-yang-menyatukan-kita.html#ixzz2Qlfa1F9E

Masih Hidup Walau Sudah dikapak 15 Kali

Opoae ~ Seorang gadis berumur 17 tahun berharap mati setelah selamat dari serangan kapak ke tubuhnya oleh kakanya sendiri. Dia dikucilkan dari keluarga dan dinikahkan secara paksa pada usia 12 tahun. 

Gul Meena menikah kepada seorang pria berumur 60 tahun dan setiap hari ia memukulnya walaupun Meena sudah menangis memintanya untuk berhenti. 

“Keluarga saya akan memukuli ketika saya mengeluh tentang suami saya” katanya kepada CNN. “Mereka bilang saya adalah milik suami saya dan itulah hidup saya” tambah Meena. Pada November tahun lalu Meena berhasil melarikan diri dari suami saya dengan dibantu seorang pemuda Afghanistan. 

“Saya telah mencoba untuk bunuh diri dengan meminum racun beberapa kali tetapi tidak berhasil. Saya sangat membenci hidup saya dan saya harus melarikan diri”, ungka Meena. 

“Saya tahu lari itu berbahaya, keluarga dan saya tahu suami dan keluarga akan mencari saya, tapi saya tidak pernah berppikir hal ini dapat terjadi. Saya pikir saya mempunyai masa depan yang cerah.” 

Setelah menikah 5 tahun, Meena melarikan diri ke Jalalabad, Afghanistan. Tapi dalam beberapa hari kakanya menemukan pacarnya yang membantu Meena kabur dan membunuhnya dengan kapak dan memukulnya 15 kali dengan kapak itu. 

Kakak Meena melarikan diri kembali ke keluarganya setelah berfikir ia telah membunuh adiknya sendiri. Ia meninggalkan Meena dalam genangan darah di tempat tidurnya dengan sebagian otaknya menggantung keluar dari kepalanya yang terbelah. Untungnya ahli bedah di Nangarhar Regional Medical Centre menyelamatkan hidupnya walaupun Meena kehilangan banyak darah. Menurut CNN kejadian yang menimpa Meena tidak diakui oleh keluarganya maupun pemerintah Pakistan. Dokter yang menanganinya membayarkan obat selama dua bulan dia dirawat dirumah sakit sebelum akhirnya ia dibawa ke penampungan wanita di Kabul. Manizha Naderi, direktur dari penampungan badan amal tersebut, mengatakan bahwa Meena tidak bisa makan dan menghidupi dirinya sendiri dan harus memakai popok. 


Meena juga mengatakan: “Saya udah mencoba bunuh diri beberapa kali semenjak tiba di penampungan tetapi mereka tidak akan membiarkan saya. Ketika saya melihat cermin saya selalu meletakkan satu tangan saya ke sisi wajah saya yang buruk. Orang mengatakan bahwa saya tidak boleh berbuat seperti itu, tapi saya sangat malu.”

Baca Juga:  

Betapa Sakitnya Proses Melahirkan Bayi di Zaman Dahulu

Opoae ~ Bersyukurlah para wanita yang lahir di abad 20 ini dan bisa "menikmati" proses persalinan dengan lebih baik, aman, dan mudah. Selain didukung oleh para dokter berpengalaman, perawat yang sigap, juga peralatan medis yang memungkinkan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang mungkin akan terjadi selama proses persalinan.
Bahkan Operasi Caesar pun dari hari ke hari sudah semakin canggih.Kalau dulu seorang ibu hamil harus menjalani proses pembiusan total dan tergolek lemah seharian tanpa daya usai operasi, sekarang bahkan sambil nonton televisi sekalipun sang ibu bisa menjalani proses operasi dengan tenang, santai, bahkan sangat nyaman. Dan setelah operasi, dalam hitungan jam (asal sudah ngentut), sang ibu sudah bisa jalan-jalan dan makan di "All You Can Eat Restaurant".
Cobalah Anda sahabat Opoae sesekali membayangkan bagaimana para wanita di masa lalu menjalani proses persalinan? Dari cerita Ibu atau nenek, Anda tentu sudah mendengar tentang betapa sakitnya persalinan itu (dan itu pun Anda alami sendiri saat melahirkan anak dengan cara normal). Namun yang tidak Anda ketahui, di masa lalu, proses persalinan yang mereka - atau bahkan nenek buyut Anda - alami jauh lebih sulit, berat, bahkan berbahaya. Dan sering kali, nyawa mereka menjadi taruhan.

proses melahirkan tempo dulu

Untuk proses persalinan normal, ada beberapa cara yang dilakukan. Di kawasan Asia, proses persalinan biasanya dilakukan dengan cara mengurut. Sang dukun beranak akan mengurut perut sang wanita dengan gerakan dan tekanan tertentu, yg dapat menstimulasi sang jabang bayi untuk keluar dari perut. Jika sang bayi tidak juga mau keluar, maka akan dipaksa dengan cara didorong. Caranya : Sang dukun berjongkok di atas tubuh sang wanita hamil, sementara 4 - 8 orang keluarga akan asisten dukun akan memegangi tangan dan kaki si wanita. Setelah itu sang dukun akan mendorong paksa si jabang bayi keluar dari perut.
Di negara Eropa, jika bayi sulit keluar walau sang ibu sudah ngeden berjam-jam, maka sang dokter akan mengambil alat semacam dongkrak dari baja, menempelkan alat itu sisi kiri dan kanan persendian selangkangan wanita. Sahabat anehdiduniadotcom alat itu lalu dipompa atau didongkrak sehingga membuat pintu keluar itu membesar (bahkan dibuka sangat besar, sampai-sampai muat untuk kedua tangan sang dokter), lalu sang dokter tinggal memasukkan kedua tangannya ke dalam dan menarik sang bayi keluar dari perut ibunya. Karena proses pemaksaan ini, tidak sedikit wanita yg mengalami retak tulang belikat atau patah tulang selangkang usai persalinan.


Cara lain yg dilakukan para wanita di Eropa masa lalu : Sang wanita yg akan melahirkan berdiri dengan tangan memeluk atau memegang benda (entah itu besi beton, tiang rumah, atau yang lain) yang berfungsi sebagai penahan. Kedua kakinya diregangkan sebesar-besarnya untuk memberikan ruang luas buat si bayi keluar. Sebuah bantal diletakkan tepat di bawah, di tengah2 kaki sang wanita, agar ketika sang bayi keluar, dia akan terjatuh di bantal itu. Setelah semua siap, maka sang wanita mulai mengeden. Jika sulit, biasa dibantu oleh beberapa orang pembantu dengan cara ditekan dan didorong. Cara ini dirasakan "lebih nyaman" dan dapat mengurangi rasa sakit.
Bagaimana jika wanita yg akan melahirkan itu mengalami kelainan dalam kandungan dan harus menjalani operasi? Dia akan ditidurkan terlentang di atas tempat semacam kasur untuk berkemah (velt-bed). Sang ahli bedah akan memijit-mijit perut sang wanita dan mengatur kedudukan bayi. Setelah itu, ahli bedah akan mengambil pisau yang matanya sangat tajam. Dengan gerakan cepat, dia membuat sebuah goresan pembedahan. Dan dalam hitungan detik, saat perut wanita sudah terbuka, dibantu dengan asistennya, dia akan mengangkat si bayi dari perut sang wanita. Setelah itu, dengan gerakan cepat, dia menjahit perut sang wanita. Dan semua dikerjakan dengan sangat cepat. Hal ini dikarenakan kekuatiran para ahli bedah kalau kotoran atau bakteri akan masuk ke tubuh sang wanita dan dapat membuat luka bedah menjadi infeksi.
Jadi sekali lagi, bersyukurlah para wanita yang hidup di masa kini, karena tidak menjalani proses persalinan seperti orang-orang di masa lalu. Dan tetaplah hormati ibu anda sendiri. 

Baca Juga:  

Kisah Anak Sopir Angkot yang Sukses di New York

Opoae ~ Seorang pria memasuki dunia lain. Sedikit pun tak pernah tersirat ia akan berada di tempat ini. Bandara John F Kennedy. Ya, ini New York! 

Ia melanjutkan perjalanannya dengan mobil. Melewati Manhattan, nafasnya tertahan sejenak: gedung-gedung menjulang, dan puncak Chrysler Building berkilau seperti berlian. Lalu Empire State Building pamer kemegahan. Juga Sungai Hudson, seperti menenggelamkan jiwanya. 

Bronx, ia juga melewatinya. Sedikit menyurut dari kemewahan Manhattan, di sini lebih banyak kedai cepat saji, pemusik jalanan, dan lalu lalang orang di subway station. 

Lepas dari Bronx ia menapakkan kaki di Westchester. Kebetulan saat itu sedang musim gugur. Daun hijau menjelma keemasan, merah muda, merah tua, merah keemasan. Makin romantis dengan terpaan sinar matahari. 

"Ini sambutan untuk saya, saya tidak sedang bermimpi," gumam Iwan Setyawan. Demikian nama lelaki ini.

Gagap Bahasa Inggris
Dari Batu, Malang, Iwan datang ke New York untuk mewujudkan mimpi. Mimpi yang sangat sederhana: memiliki kamar tidur sendiri di rumahnya. 

Cita-citanya masa kecil sederhana sekali, dia ingin menjadi Hansip. Dulu itu pekerjaan yang mengagumkan untuknya. "Di lingkungan saya kecil dulu, nggak ada orang yang bekerja pakai seragam. Ya cuma Hansip itu yang pakai baju serba hijau, belt, sepatu. Itu canggih," ujarnya. 

Ke New York, Iwan juga ingin membalas perjuangan keras orang tuanya, menyekolahkan hingga perguruan tinggi. Iwan memang tak besar di lingkungan cukup. Ayahnya sopir angkot, dan ibunya hanya di rumah, mendidik, dan membentuk hati anak-anaknya.

Keinginan membahagiakan keluarga begitu kuat, sampai akhirnya ia berangkat mengisi posisidata processing di Nielsen Research New York yang merupakan perusahaan riset terkemuka asal Amerika. Sebenarnya, dari hati kecil ia tak ingin meninggalkan orang-orang dekatnya di tanah air. Bapak, ibu, kakak, dan adik. 

Dari kecil lelaki kelahiran 2 Desember 1974 ini tak pernah jauh dari keluarga. Ia memang pernah pekerja di Jakarta, di perusahaan sama. Ia juga merasakan kuliah di Bogor, tempatnya menimba ilmu statistik.

Tapi New York sangat jauh. Ia tak bisa pulang sewaktu-waktu saat rindu menyerang. Ini sangat menyedihkan untuknya. Tiga bulan pertama di New York, Iwan tinggal bersama rekan yang sudah dianggap sebagai kakaknya, Mbak Ati. Ke mana pun ingin pergi pria bertubuh kecil ini selalu ditemani. Kesedihan makin parah saat Mbak Ati, teman satu-satunya ini memutuskan pindah ke Australia. Meninggalkan dia seorang diri di negara asing.
Iwan harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Ia mulai belajar memasak, mengurus segala tagihan rekening listrik dan telepon sendirian. Dan terpaksa harus mencari teman baru. Masa penyesuaian ini sangat sulit. Sesulit penyesuaian dirinya pada pekerjaan, mengingat bahasa Inggris-nya juga tidak canggih.

"What? What did you say? Would you repeat again?" ceritanya setiap kali ia mencoba berbahasa Inggris. Saat bekerja, ia lebih banyak diam. Bukan karena tak mau bergaul, tapi karena ia tidak tahu bagaimana harus bicara. 

Namun lelaki yang dipanggil Bayek semasa kecil ini tak mau jalan di tempat. Ia sudah kadung nyemplung ke dunia profesional, dunia yang sangat langka karena tidak semua orang beruntung seperti dirinya. Ia lalu memberanikan diri menunjukkan bahasa Inggris-nya di lingkungan kerja. 

"Saya jadi banyak membaca, menonton TV. Pertama kali ngomong, orang sering banyaknggak ngerti. Ini orang aksennya lucu," ujarnya. 

Berkarya di luar negeri bukan hanya soal kepiawaian berbahasa, tapi juga kemampuan. Ia sempat minder saat kinerjanya dipertanyakan, mengingat ia hanya lulusan Indonesia. Institut Pertanian Bogor. Bukan dari sekolah popular di Amerika seperti kebanyakan rekannya. 

Iwan membuktikan bahwa dirinya mampu bersaing. Ia bekerja lebih keras dibanding yang lain. Bekerja lebih lama dibandingkan yang lain. Dan menyelesaikan lebih banyak pekerjaan dari yang seharusnya.

"Aku pikir, minder itu menutup kita untuk maju. Jadi buat apa minder? Lawan terus, usaha, banyak belajar. Aku coba untuk menantang diriku sendiri. Semakin diremehkan, semakin aku mau nunjukkan aku bisa. Setiap dikasih pekerjaan ABC aku mengerjakannya ABCD. Jam kerjaku seharusnya delapan jam, tapi aku bekerja sepuluh jam," bebernya. 

Kerja kerasnya mendapat apresiasi. Iwan yang mengaku penakut ini meraih penghargaanEmployee of the Month di bulan keempat dan kedelapan dirinya bekerja. 

Sendiri Itu Sulit

New York memang kota mewah, tapi Iwan tak lantas menjadi glamour. Ia tetap orang Batu yang sederhana. Ia mengatakan biaya hidup di sana sangat tinggi. "Aku sering beli lauk di luar terus masak nasi di rumah. Atau bikin rendang, kan bisa buat beberapa hari," ujarnya.

Soal makanan, Iwan juga sempat melewati kesulitan mengakrabi pasta dan pizza. Lidahnya tetap sambal terasi. Ia memutari kota mencari toko yang menjual bumbu rempah, membuat sambal untuk teman makan sehari-hari. 

Pada VIVAlife Iwan yang gemar menebar senyum ini menceritakan bagaimana ia melewati hari-harinya sendiri. Saat sedih ia hanya bisa mengungkapkan perasaannya lewat tulisan. Setiap hari ia menelepon keluarganya di Batu. Menceritakan hal apapun kepada ibunya.
Iwan juga mulai menekuni yoga. Awalnya ia memang tak tertarik dengan yoga, menurutnya yoga hanyalah kegiatan untuk perempuan. Sampai akhirnya ia menemukan khasiat yoga. Obat ampuh untuk menyembuhkan kesedihan, kesendirian, dan mengusir kesepiannya. 

Lelaki yang hobi bertualang ini juga menceritakan kejadian paling tragis saat ia tinggal di Westchester. Meski daerah ini terbilang paling aman di New York, tapi justru di sinilah ia babak belur. Pipinya biru terkena pukulan. Badannya berkeringat dingin, gemetar. Iwan dirampok sesaat setelah ia ke luar dari ATM.
"Saya nggak ngelawan, nangis-nangis iya," ujar pria yang mengaku tidak pernah berkelahi seumur hidupnya ini. Namun kejadian itu tidak lantas membuatnya menyerah dan pulang. Iwan tetap bertahan demi mencapai apa yang ia inginkan.

Ia masih terus membahagiakan keluarganya, lebih dan lebih. Setiap bulan atau bahkan sebulan dua kali ia mentransfer sebagian gaji dan bonusnya untuk keluarga lewat sang ibu. Wanita yang selama ini menjadi 'menteri keuangan' keluarga. 

Mencintai New York

Lambat laun penyesuaian dirinya makin mulus. Ia bahkan betah tinggal di negeri yang tak pernah tidur ini. Meski rasa rindu untuk pulang kerap menyelinap. Iwan sudah bisa menikmati New York.
New York yang sempat mencengangkannya saat pertama kali menginjakkan kaki. "Noraknya tuh pas aku tahu, oh passport tuh kayak gini, bandara John F Kennedy tuh gini ya, gini toh rasanya naik pesawat," ujarnya mengenang.

Pulang kerja, ia berjalan melewati pertokoan. Sekadar membuang penat atau malah berbelanja. Iwan jadi lebih mengenal fesyen. Ia sadar penampilan menjadi kebutuhan, bukan hanya bagian gaya hidup. 

Dikatakannya, orang-orang di sekeliling turut memberi pengaruh. "Saya merasa jadi suka baca buku, liat orang-orang baca buku di taman, di bus, di kafe. Saya juga liat fesyen orang-orang, cara mereka berpakaian."

Iwan menemukan energinya. Energi yang mampu membuatnya menaiki karier lebih tinggi bahkan menjadi sangat hebat. Ia mendapat promosi menjadi Senior Data Processing Executive. Lalu Manager Data Processing Executive, Senior Manager Operations, dan akhirnya sebagai Director Internal Client Management. Anak buahnya tak hanya di kantor tapi tersebar di New York, Chicago, San Fransisco, dan India. Ini bukan posisi main-main.

Membingkai kisah dalam tulisan

Pada 2011 Iwan kembali ke Indonesia. Ia memutuskan pulang setelah menghabiskan 9 musim panas dan 10 musim gugur di New York. Keinginannya memiliki kamar sendiri di rumahnya juga sudah kesampaian.

Baginya New York sudah mengubah hidupnya sangat banyak. Saatnya ia kembali dan menata hidupnya yang baru. 

Belum lama menikmati kemerdekaannya berkumpul bersama keluarga di Batu, Malang, Iwan mendapat tawaran untuk bekerja di Singapura. Sebagai Director Marketing Science di perusahaan marketing research multinasional yang mengawasi enam negara di Asia Tenggara. Gaji yang diberikan jauh lebih besar dari yang ia terima di New York. Tapi ia menolak.

Alasannya sederhana, ia ingin melakukan sesuatu untuk keluarganya. Membingkai perjalanan hidupnya, perjuangan orangtuanya, dan kenangan bersama kakak adiknya dalam sebuah buku. Iwan menjadi penulis.
"Keponakan-keponakan saya itu tahunya, om nya sudah pernah jadi direktur, kakeknya bukan lagi sopir angkot. Keluarga saya juga tidak pernah punya foto keluarga, jadi saya membuatkan potret keluarga lewat tulisan."
Selama enam bulan di Batu ia menyelesaikan 9 Summers 10 Autumns, novel pertama sebagai hadiah untuk bapak. "Saya nggak bisa nulis kalau nggak di Batu, tempat ibu saya ini bikin saya tenang," ujarnya. Enam bulan itu pula ia mengenang masa lalunya. 

Bagaimana dulu ia merengek minta sepatu baru karena sepatunya sudah jebol. Bagaimana sesaknya rumah berukuran 6 x 7 meter yang dulu ditinggali bapak, ibuk, dan lima anaknya. 

Bagaimana ia harus berbagi sepiring nasi goreng dengan dua telur ceplok sebagai sarapan istimewa keluarga. Bagaimana sang bapak harus menjual angkot, satu-satunya mesin penghasil uang keluarga demi ia bisa kuliah. Bagaimana bapak harus menjadi sopir truk untuk tetap mengepulkan dapur. Hingga perjalanan kariernya di New York selama 10 tahun.

Tak sedikit air mata yang keluar saat ia merangkai kata. "Terkadang kesibukan itu bikin kita lupa evaluasi diri. Dengan menulis, aku jadi mengerti benar masa laluku," ungkap lelaki berambut kelimis ini. 

9 Summers 10 Autumns menjadi nasional best seller. Bertengger juga dalam daftar 10 besar Katulistiwa Literary Award, ajang penghargaan karya sastra terbaik di nusantara. Menyabet penghargaan sebagai Buku Terbaik Jakarta Book Award 2011, dan dicetak dalan versi Inggris berjudul 9 Summers 10 Autumns From the City of Apples to The Big Apple. 

Novel ini juga sudah difilm-kan dengan judul sama, dan segera meluncur di bioskop 25 April mendatang. Ia juga sudah menelurkan novel kedua berjudul Ibuk. Novel yang kali ini ia dedikasikan untuk sang ibu tercinta.

Namun pencapaian-pencapaian ini tak lantas mengubah hidup dan kebiasaan keluarganya. "Ibu saya masih suka nyuruh saya ngepel. Saya suka bilang gini, 'Bu, aku nih penulis terkenal loh'," kelakarnya. 

Setelah dua novelnya terbit, Iwan yang kini mendirikan perusahaan data analis mulai sering berkelana keliling Indonesia. Perjalanan backpack-nya menggunakan bus, kereta api, angkot, pesawat, ojek, bajaj, becak, dan perahu. Ia mendapat undangan untuk menceritakan kisah hidupnya, membagikan semangatnya. 

Hati kecilnya menjalankan dengan senang hati. Ia tak pernah lelah. Tujuannya mencari dua tiga anak sopir angkot untuk bisa seperti dirinya. Ia ingin semua orang melebihi dirinya, meski kendala selalu ada di depan mata. 

"Kalau mau maju, berbuat lebih dari orang lain, bekerja lebih dari orang lain.  Jangan hanya sesuai job desc," ujarnya. (umi)

Baca Juga:  

Pria Ini Jadi Jenius Setelah Dipukul Preman

Unik, Pria Ini Jadi Jenius Setelah Dipukuli Preman
Opoae ~ Aneh, Pria ini malah jadi jenius setelah dipukulin preman. BAGI banyak orang, diperlukan pendidikan yang tinggi untuk mendapat titel jenius. Namun bagi Jason Padgett, kecerdasan tingkat tinggi diperolehnya hanya dalam waktu satu malam.

Kok bisa ya?
Lelaki asal Tacoma, Washington, Amerika Serikat ini tak punya gelar sarjana, setelah dikeluarkan dari kampus karena nilainya yang bobrok. Dengan titel mahasiswa drop out, Padgett menghabiskan waktunya hanya dengan berpesta dan berfoya-foya.

Unik, Pria Ini Jadi Jenius Setelah Dipukuli Preman


Hingga pada suatu malam, hidup Padgett berubah selamanya. Setelah berpesta di sebuah klub karaoke di Tacoma, sekelompok preman menyerang Padgett, memukul dan menendang kepalanya berkali-kali.

“Saya melihat kilatan cahaya, lalu tidak sadarkan diri. Setelah sadar, saya sedang berlutut di tanah dan saya pikir, saya akan mati,” ungkapnya seperti dikutip Oddity Central, Selasa (1/5).
Unik, Pria Ini Jadi Jenius Setelah Dipukuli Preman
Dua hari setelah insiden ini, Padgett merasakan sesuatu yang berbeda. Lelaki yang kini berusia 41 tahun itu mendadak mampu menggambar diagram yang merepresentasikan rumus-rumus matematika dalam berbagai bentuk. Padahal sebelumnya Padgett tidak bisa menggambar sama sekali.

“Saya melihat semua hal seperti diagram theorema Pythagoras. Setiap benda dengan lekukan, spiral, bahkan pohon, semua terlihat seperti diagram matematika,” ujarnya.
Gambar dengan pola geometris matematika yang dibuat Padgett disebut fractal. Gambar fractal buatan Padgett terlihat sangat detil, bahkan tergolong rumit untuk dibuat secara manual.

Kemampuan Padgett yang datang secara instan membuat Padgett sempat dikirim ke Finlandia untuk menjalani serangkaian tes oleh Berit Brogaard, ahli syaraf dan professor filsafat dari Center for Neurodynamics di University of Missouri – St. Louis.

Hasil scan menunjukkan Padgett mengalami kerusakan otak, sehingga beberapa bagian otak yang lazimnya tidak dapat diakses menjadi terekspos. Kondisi inilah yang membuat Padgett memiliki kecerdasan setara manusia super.

Dengan kecerdasannya ini, Padgett meninggalkan profesi lamanya sebagai pegawai toko furnitur dan beralih menjadi guru matematika.
 

Baca Juga:  
Sumber: http://www.ceritaciijail.com/2013/04/Unik-Pria-Ini-Jadi-Jenius-Setelah-Dipukuli-Preman.html#ixzz2Q8qOywqX

Kisah Mengharukan Tikus Puth Menyelamatkan Temannya

Opoae ~ Mungkin ada yang pernah disakiti teman atau sahabat? Sebagai manusia yang punya keunggulan tertinggi di antara semua mahluk, kita ternyata tetap harus belajar pada naluri hewan. Bahkan pada sepasang tikus putih ini.
3tikus putih apakabardunia Mengharukan: Tikus ini Menolong Teman yang Dimangsa Ular
 
 
Di sebuah kebun binatang, Hangzau Zoo di provinsi Zheijang, Cina Timur, terjadi pemandangan unik sekaligus mengharukan. Ketika dua ekor tikus putih dimasukkan ke dalam kandang ular untuk makan malam, salah satu tikus tadi langsung didekati ular sebagai santapan pertamanya.
 Namun, apa yang terjadi? Teman tikus putih tersebut dengan gagah berani mendekati ular dan menyerang untuk menolong temannya yang sedang dalam bahaya, sekarat dalam mulut ular. Tentu saja tindakan ini teramat nekad, mengingat ular hijau ini adalah jenis ular berbisa. Jadi, bukan saja jauh lebih besar dari ukuran tubuh sang tikus, kekuatan ular ini jauh di atas kelasnya.
2tikus putih apakabardunia Mengharukan: Tikus ini Menolong Teman yang Dimangsa Ular
tikus putih http://www.wikiasia.blogspot.com/2013/03/kisah-mengharukan-tikus-puth.htmlMengharukan: Tikus ini Menolong Teman yang Dimangsa Ular
 
 
Seorang penjaga yang bertugas memberi makan ular ini, menyaksikan dan mengabadikan kejadian tersebut. Ia pun dengan penuh haru mengambil kembali tikus yang menyerang ular pemangsanya. Menurut sang penjaga, tikus ini punya hak untuk memperoleh kesempatan hidup. 
 Kisah di atas mungkin bisa jadi renungan, begitulah seharusnya kita memperlakukan seorang sahabat, tidak hanya ikut tertawa saat bahagia, tapi juga hadir ketika ia dalam duka dan butuh pertolongan.

Baca Juga: 


Sumber: http://ebo.web.id/mengharukan-tikus-ini-menolong-teman-yang-dimangsa-ular/

Mahasiswi Muslimah, Cerdas Jadi Pemulung Untuk Kuliah

Opoae ~  Ming Ming, Mahasiswi Pemulung Sambil berjalan, gadis berjubah itu memungut dan mengumpulkan plastik bekas minuman yang ditemuinya sepanjang jalan. Dia berjalan kaki sehari kurang lebih 10 km. Selama berjalan itulah, dengan menggunakan karung goni, dia memperoleh banyak plastik untuk dibawa pulang.

Orang menyebutnya ’Pemulung’ satu pekerjaan yang bagi ukuran usia remaja sangat tidak bergengsi. TAPI TIDAK BUAT MING MING. Gadis berusia 17 tahun, mahasiswi semester pertama jurusan akuntansi. Dan salah satu mahasiswa TERPANDAI di kelasnya.

Mengenakan gamis hijau, jilbab lebar dan tas ransel berwarna hitam, dia memasuki lobi Universitas Pamulang (UNPAM), Tangerang. Saat kelas usai, dia pergi ke perpustakaan.

“Ilmu sangat penting. Dengan Ilmu saya bisa memimpin diri saya. Dengan ilmu saya bisa memimpin keluarga.

Dengan ilmu saya bisa memimpin bangsa. Dan dengan ilmu saya bisa memimpin dunia. ”

Itu asalan Ming Ming kenapa saat istirahat dia lebih senang ke perpustakaan daripada tempat lain. (keren ya …)

Sore hari setelah kuliah usai, Ming Ming menuju salah satu sudut kampus. Di sebuah ruangan kecil, dia bersama beberapa temannya mengadakan pengajian bersama.

Ini adalah kegiatan rutin mereka, yang merupakan salah satu unit kegiatan mahasiswa di UNPAM.
Setelah itu, dia bergegas keluar dari komplek kampus.

Namun dia tidak naik kendaraan umum untuk pulang. Dia lebih memilih jalan kaki ke rumahnya. Padahal jarak rumah dengan kampus lumayan jauh. Dalam perjalanan itulah, gadis bersahaja ini memunguti plastik bekas minuman tanpa rasa jengah sedikitpun. Karena dia berpikir dengan cara inilah dia bisa membantu meringankan beban ekonomi orangtuanya.

Rumah Ming Ming jauh dari kampus. Dia tinggal bersama ibu dan 6 orang adiknya yang masih kecil-kecil. Mereka tinggal di sebuah rumah sederhana yang mereka pinjam dari saudara mereka di Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor. Biasanya setelah berjalan hampir 10 km, untuk sampai ke rumahnya Ming Ming menumpang truk. Sopir truk yang lewat, sudah kenal denganya, sehingga mereka selalu memberi tumpangan di bak belakang.

Subhanallah, setelah truk berhenti dengan tangkas dia naik ke bak belakang lewat sisi samping yang tinggi itu. (can you imagine it?)

Ming Ming sekeluarga adalah pemulung. Dia, ibu dan adik- adiknya mengumpulkan plastik, dibersihkan kemudian dijual lagi.

Dari memulung sampah inilah mereka hidup dan Ming Ming kuliah.

Ini adalah sepenggal cerita nyata yang ditayangkan dalam berita MATAHATI di DAAI TV sore tanggal 18/8/2009. Di Trans TV juga disiarkan hari selasa beberapa hari sebelumnya, di acara KEJAMNYA DUNIA. Sungguh episode yang membuat bulu kuduk kita merinding dan mata kita berkaca-kaca.

Astaghfirullah. Gimana bisa kita masih sering mengeluh hanya karena tabungan gak nambah- nambah?

OMG…. Bagaimana dia bisa berjalan 10 km perhari? Kita aja jalan 20 menit ke kantor tiap pagi dan sore sudah merasa capek banget. Lemah.

Subhanallah. Semangatnya itu loh. Kalau dengar dia berkata-kata, sepertinya tidak ada rasa minder, malu, bahkan dia sangat yakin. Oh girl, you are so great. Wonderfull.

Source: email dari teman. Semoga bisa menyadarkan kita untuk selalu bersyukur akan apa yang kita punya.

http://www.wikiasia.blogspot.com/2013/03/mahasiswi-muslimah-cerdas-jadi-pemulung.html



Baca Juga: 



Sumber: http://www.zonamaya.info/2013/02/ming-ming-kisah-sang-mahasiswi-pemulung.html

Kisah Mengaharukan Kisah Ibu Menyembuhkan Anaknya

Opoae ~  Sungguh mengharukan, perjuangan seorang ibu ini yang terus berusaha atas kesembuhan anaknya dari penyakit kanker, Sampai detik detik terakhir kehidupan anaknya, ia terus menemani anaknya dan yakin akan kesembuhanya. Meskipun langkah terakhir yang dia ambil harus melepaskan kepergian anaknya.
Cyndie bermain2 dengan anaknya Derek Madsen, 10, menyusuri lorong di UC Davis Medical Center di Sacramento 21 Juni 2005. Sang Ibu berhasil mengalihkan perhatian anaknya dari ketakutan akan pengambilan tulang sumsumnya. Para dokter menganalisa apakah sang Anak cocok untuk transpalasi sel batang darah yang merupakan harapan terbaik untuk kesembuhannya akan Kanker Neuroblastoma, sebuah kanker yang jarang dijumpai pada anak2, penyakit tsb ditemukan pada Derek Madsen pd bulan November 2004.

Sang Ibu ( Cyndie) memeluk anaknya, Derek Madsen ( umur 10 ) tertanggal 25 Juli 2005. Stlh menyadari Derek perlu dioperasi utk mengangkat tumor kanker di daerah perut nya. Rasa khawatir, kalut dan sedih bercampur aduk pada sang Ibu. “Bagaimana aku tetap bisa bekerja mencari uang dan melakukan ini?” Sang Ibu mulai cemas .

Derek Madsen, 10, mendapatkan pijatan lembut dari sang Ibu, Cyndie French, di salon miliknya di Sacramento. “Saya akan melakukan apapun utk membuatnya bahagia, melihatnya tersenyum.” Ujar Sang Ibu. Sebagai orang tua tunggal untuk lima anaknya, Cyndie harus menjual salonnya akibat kehabisan uang untuk perawatan medis anaknya .
 Derek bermain2 dan tidak mau turun atas penolakannya utk dioperasi. Sang Ibu membujuknya turun dan berjanji agar pembedahan ditunda utk waktu yang akan datang. Cyndia, membutuhkan waktu berjam-jam utk membujuk sang Anak di dekat pintu hospital, UC Davis Medical Center Sacramen.


Setelah ultah ke 11 Derek Madsen dan Ibunya yg ke 40, ditemani kakaknya Micah Moffe, 17, di samping kiri, dan Ibunya Cyndie, di samping kanan, utk menjalani persiapan terapi radiasi 30 November 2005.

 6 Februari 2006, Dokter Derek merekomendasikan Cyndie utk mencari seorang perawat untuk membantu di rumah. Ia tidak memberitahu Derek tentang percakapan itu, tapi menangis secara diam2 di balik pintu. “Saya pikir tdk perlu memberitahunya,” ujar sang Ibu. “Mengapa? Buat Apa?” Merasakan kesedihan sang Ibu, Derek mencoba menghibur Ibunya walau tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi.

 Menyadari kemungkinan tdk ada kesempatan lagi untuk mengemudi mobil dewasa kelak. Sang Ibu melanggar aturan membiarkan anaknya menyetir sepanjang jalan di Sacramento Barat. 9 Feb 2006, Cyndie bertemu dengan perawat rumahnya, dan memberitahunya bahwa waktu Derek tinggal lama lagi.

Derek menangis dan sang Ibu mencoba meyakinkannya (UC Davis Cancer Center, 14 Feb 2006). Sang Ibu dan Dr. William Hall mendesak Derek utk mendapatkan serangkaian terapi radiasi utk menghambat penyebaran tumor ke seluruh tubuhnya dan akhirnya dapat mengurangi rasa sakitnya. “Derek, kamu tidak akan sembuh jika tidak mau melakukan ini,” ujarnya. Derek membantah: “Saya tdk Perduli! Bawa aku pulang. Aku sudah tdk ada harapan. Apakah kamu mendengarkan saya ? Aku sudah tdk ada harapan.” 

Cyndie bermain2 dengan anaknya, selama menunggu panggilan dari Dokter.


Cyndie mengusap pipi sahabatnya yang sedang menangis, Kelly Whysong, kiri, 24 April 2006, takut bahwa waktu Derek tidak lama lagi. Cyndie menulis sebuah surat utk anaknya tentang betapa berani dirinya selama masa perjuangannya melawan kanker. Ia membacakan utk anaknya secara berulang-ulang, dan berharap sang Anak dapat mendengarnya. 


 Setelah meletakkan kain bergambar bunga utk menyejukkan kepala sang Anak, sang Ibu menangis tersedu2 dan jatuh ke lantai. Sahabatnya, Kelly Whysong dan Nick Rocha mencoba menghiburnya. Derek sudah terlalu lemah menyadari keberadaan sang Ibu sebagaimana sang Ibu terus menerus berjaga di sampingnya.

 Energi disaat terakhir utk bangun setelah berhari-hari ia berada di atas ranjangnya. Sang Ibu menolong anaknya utk berjalan (26 April). Sebuah Kanker Tumor telah membuat perut Derek menjadi kembung dan celananya menjadi tidak muat lagi. Sedangkan Tumor yang lain menyerang di otaknya dan membuat penglihatan Derek menjadi kabur sehingga ia sulit utk kemana-mana di dalam rumah kontrakannya. 

 Derek menolak pengobatan apapun karena ia takut malah akan membuat lebih sakit dan merusak organnya. Ia mengamuk dengan hebat dan menyalahkan sang Ibu (28 April) tdk membuatnya lebih sehat. “Kamu harus tenang, nak dan biarkan aku menolongmu”, Cyndie terbata-bata. 


 Derek mencium ibunya di lapangan, sebagaimana adiknya berdiri di samping. Cyndie memberitahu kpd orang di sana bahwa ia bangga akan keberanian anaknya dalam melawan kanker



Cyndie merangkul Derek 8 Mei. Terapi yang membuat ia sulit berbicara dan membuatnya terjaga sepanjang malam. Kecuali utk beberapa menit sewaktu perawat berada di sana, Cyndie hampir menghabiskan setiap momen dengan berada di samping anaknya. “Saya telah lelah melebihi keyakinanku tapi Aku harus melakukan ini. Ia akan
memanggil namaku dan selalu berharap aku berada di sisinya,” Ujar Cyndie


Dalam usahanya membawa keluar Derek utk merasakan kehangatan mentari dan udara luar. sang Ibu melewati pintu2 yang sudah dipasangi karya seni dan kartu2 ucapan dari teman sekelas anaknya. Derek Madsen keluar rumah untuk yang terakhir kalinya. 


 Cyndie berkecamuk dalam batinnya, 10 Mei, utk memutuskan agar anaknya dapat meninggal tanpa perlu terlalu sakit berlama-lama. Ia membiarkan sang Suster melakukan tugasnya. 


 Tidak lama kemudian, Secara perlahan-lahan Derek Madsen meninggal di pangkuan sang Ibu, Cyndie. 10 Mei 2006 


 Cyndie memimpin pemakaman anaknya Derek Madsen, didampingi Derek, Anthony, Micah, Vincent Morris dan beberapa teman lainnya. Derek dimakamkan di Mount Vernon Memorial Park, California, 19 Mei 2006. “Saya akan selamanya mengingat kamu di dalam hatiku dan mengingatkan orang lain untuk memberikan waktu, tenaga dan dukungan pada keluarga mereka atau kepada yang membutuhkan sebagaimana adanya kita,” ujar sang Ibu.

Baca Juga:  
Sumber: http://www.gelut.com/2013/03/perjuangan-seorang-ibu-demi-kesembuhan.html?m=1

 
Support : Copyright © 2013. WIKI ASIA - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger